Kamis, 12 Januari 2012

Khalwat menyendiri bersamaNya

Khalwat

Khalwat adalah semacam isolasi yang hanya dapat dilakukan atas perintah Shaykh/Guru. Jangka waktu terpendeknya  adalah empatpuluh hari sebagaimana disebutkan di dalam al Qur’an Karim tentang Nabi Musa a.s. :
             Dan ingatlah (ketika) Kami menugaskan empat puluh hari untuk Musa (2:51)
Nabi s.a.w. berkhalwat (menyepikan dirinya) di dalam gua Hira. Sasaran khalwat yang demikian itu adalah untuk membebaskan qalbu dari berhubungan dengan kenikmatan materi dunia ini dan membawanya kepada suatu keadaan ingat Allah S.W.T. Di dalam nya (akan) terjadi tak terhitung penampakan. Itu meningkatkan murid kepada keadaan (tingkat) memahami diri, dan dari situ kepada keadaan (tingkat) memahami Allah S.W.T.
Shaykh/Guru itu memerintahkan murid untuk berkhalwat di dalam suatu ruang di mana dia akan dilayani dengan apa yang diperlukan untuk bertahan hidup. Kemudian shaykh akan mengajari lidah muridnya cara membaca dzikr, sampai dia tersambung dengan bacaannya itu. Shaykh akan mendukung muridnya dalam membuka penampakan Hadhirat Ilahi dalam qalbunya. Apapun yang terjadi kepada murid selama khalwat, harus dilaporkan kepada shaykhnya, dan dia harus menutupinya terhadap siapapun selain shaykhnya itu.
Khalwat bukanlah ibadah baru (bid’ah), namun itu adalah perintah Allah S.W.T., di dalam Kitab Suci Nya dan dicontohkan Nabi s.a.w. Nabi s.a.w. berkhalwat (menyepikan dirinya) di dalam Gua Hira di pegunungan Makkah, mengingat Allah S.W.T.
Abu Saud dalam komentarnya tentang penjelasan al Qur’an oleh Fakhr ad-Din al-Razi mengatakan :
Makna ayat ini adalah untuk tetap berkhalwat (menyepikan diri) terhadap segala sesuatu kecuali Allah S.W.T., mengingat Nya siang dan malam, dengan tasbih, hamdalah dan tahlil, dan memutuskan dirimu dengan seluruh kemampuan yang kamu miliki, and mendekat kepada Nya melalui tingkat-tingkat (maqam) meditasi sedemikian rupa sehingga kamu tidak melihat siapapun kecuali Dia, dan meninggalkan hubungan dengan selain Dia melalui meditasi itu.
Bentuk meditasi Islam didasarkan pada khalwat (menyepi). Bukti tentang ini dalam al Qur’an bisa didapatkan dalam kisah Mariam a.s., ibu Nabi Isa a.s. :
Maka Tuhannya menerima (doa) nya dengan sebuah penerimaan yang pemurah, dan mengakibatkan dia tumbuh secara sempurna, dan menjdikan Nabi Zakhariah sebagai walinya. Setiap kali Nabi Zakhariah a.s. mengunjunginya di tempatnya menyepi, dia mendapatinya bersama dengan kebutuhannya sehari hari (rezeki - makanan minuman) nya. Dia bertanya :” Ya Mariam dari mana engkau mendapatkan ini?” Dia menjawab :”Ini dari Allah. Sesungguhnya, Allah memberi kepada siapapun yang Dia kehendaki tanpa takaran.” (3:37)
Mengungkapkan kisah tentang Shahabat Gua (Kahfi), Allah bersabda dalam al Qur’an bahwa mereka diperintahkan :
Pergilah kalian ke Gua itu : Tuhanmu akan mengguyur mu dengan Rahmat Nya mengatur urusanmu menuju kemudahan. (18:16)
Demikian juga, khalwat (menyepi) ada dalilnya dalam Sunnah. Bukhari melaporkan bahwa Aisha r.a. mengatakan :
Nabi s.a.w. senang sekali berkhalwat (menyepikan dirinya). Beliau s.a.w. berkhalwat (menyepikan diri). dalam Gua Hira.
Imam Nawawi menjelaskan Hadits Aisha r.a. :
Berkhalwat (menyepi) bersama dengan Satu yang kamu cintai adalah sebenar benar khalwat. Itu adalah jalan para shalih, dan itu adalah jalan para ‘alim.
Dia berkata, dalam penjelasannya dalam Salih Muslim :
Nabi s.a.w. berkata : Saya dicipta untuk mencintai khalwat,” karena dengannya qalbu akan kosong dari semua kehidupan duniawi ini. Qalbu itu akan dalam keadaan damai Hal ini membantu memperdalam meditasi pada Hadhirat Ilahi. Dengannya, keterikatan seseorang dengan dunia akan berkurang. Dengannya, pengabdiannya akan bertambah.  
Imam Zuhri berkata :  
Saya heran dengan orang orang, bahwa mereka tidak melaksanakan khalwat. Nabi s.a.w. melakukan banyak hal kemudian meninggalkannya, namun dia s.a.w. tidak pernah berhenti melakukan khalwat  sampai meninggalnya.
Abu Jamra berkata menjelaskan sunnah ini dari Aisha r.a. :
Ketika Nabi s.a.w. menyepikan diri (khalwat), meninggalkan ummatnya dan melepaskan dirinya dari dunia, dia s.a.w. menerima wahyu dari Jibril a.s. dalam Gua Hira. Siapapun yang akan meniru Nabi s.a.w. dalam melakukan khalwat, dibawah perintah shaykhnya, akan diangkat ke maqam orang suci (awliya Allah).
Bukti (pengaruh, Pent) khalwat adalah bahwa Nabi s.a.w. melalui khalwatnya dalam Gua Hira, diangkat kepada maqam di mana beliau s.a.w. menerima wahyu. Dalam khalwatnya buah pertamanya adalah mimpi yang benar, dan dari maqam ini beliau s.a.w. diangkat pada Malam Mi’raj, sampai beliau mencapai Hadhirat Ilahiah ke maqam “dua busur jaraknya atau lebih dekat.” (53:9)
Semua maqam maqam ini adalah hasil dari khalwatnya dalam Gua Hira. Kita belajar dari sini, jika kita mengikuti jejak langkah Nabi s.a.w. , kita akan diangkat dari maqam satu ke maqam lainnya sampai kita mencapai maqam awliya Allah yang tinggi, dan kita akan mendapati diri kita dalam Hadhirat Ilahiah.
Shaykh Abd al-Qadir berkata  :
Dari Gua Hira, dimana Nabi s.a.w. ber-khalwat, cahaya mamancar, fajar menyingsing, dan matahari terbit. Gemerlap pertama cahaya Sufisme Islam telah menyambar. Tak pernah Nabi s.a.w. meninggalkan khalwatnya, bahkan setelah meninggalkan Gua Hira. Sepanjang hidupnya beliau s.a.w. meneruskan latihan khalwat (‘itikaf) nya selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Ini memperagakan bahwa sepanjang hidupnya, Nabi s.a.w.  meneruskan khalwatnya secara tetap. Tentu saja tugas maha berat menyampaikan Risalah Allah kepada ummat manusia dan membangun masyarakat beriman membuat beliau s.a.w. harus mengurangi jumlah waktu kesendiriannya. Namun untuk para pengikutnya, tetap saja empat puluh hari adalah jumlah minimumnya.
Imam Qastaliani dalam menjelaskan sunnah ini mengatakan :
Khalwat akan membawa qalbu kepada kedamaian dan terbukalah di dalamnya mata air (sumber) hikmah, karena itu akan memutuskan sang murid dari kehidupan material dan membuat dia mampu mengingat Allah S.W.T. Dalam khalwat nya dia juga harus mengisolasi dirinya  dan menyepikan dirinya dari dirinya. Hanya memandang Allah S.W.T. Pada saat tersebut itulah dia akan menerima ilmu ghaib, dan qalbunya akan menjadi landasan bagi keperluan tersebut.
Dalam hubungannya dengan khalwat, Abul Hasan ash-Shadhili berkata :
Terdapat sepuluh manfa’at dari khalwat :
v     Selamat dari semua adab buruk lidah, karena tidak ada siapapun yang dapat diajak bicara dalam khalwat.
v     Selamat dari semua adab buruk mata, karena tidak seorang manusiapun untuk dilihat dalam khalwat.
v     Qalbu selamat dari segala macam pamer dan penyakit sejenisnya yang lain.
v     Itu akan mengangkat kamu kepada maqam zuhd (berfokus ke langit, membelakangi dunia).
v     Itu akan menyelamatkan kamu dari berteman dengan orang jahat.
v     Itu akan membuat kamu memiliki waktu bebas untuk  melakukan dzikr.
v     Itu akan memberi kamu rasa manisnya beribadah/mengabdi, shalat dan berdoa dalam Hadhirat Ilahiah.
v     Itu akan memberikan kepuasan dan kedamaian kepada qalbu.
v     Itu akan menghindarkan egomu dari jatuh ke dalam adab yang buruk.
v     Itu akan memberi kamu waktu untuk bermeditasi, membuat perhitungan neraca diri dan mengejar sasaran menuju Hadhirat Ilahiah.
Itu adalah yang disebutkan Nabi s.a.w. dalam sunnahnya, diriwayatkan Bukhori dalam kitabnya Riqaq :
Abu Hurayra r.a. melaporkan bahwa Nabi s.a.w. berkata,”Terdapat tujuh yang akan berada di bawah Naungan Allah pada Hari di mana tidak terdapat naungan kecuali Naungan Allah. Salah satunya adalah seorang yang melantunkan dzikr dalam khalwat dan air mata meleleh dari matanya.”
PENJELASAN TENTANG KHALWAT OLEH SHAYKH ABD ALLAH AD-DAGHESTANI
Sekali waktu seorang orientalis Perancis ternama datang mengunjungi Shaykh Abd Allah ad-Daghestani di Damascus dan berkata :
Wahai tuanku, saya datang kepadamu setelah mempelajari Taurat, Injil dan al Qur’an. Saya telah belajar filosofi, agama, dan banyak sistem keilmuan (lainnya). Namun tetap saja, saya tidak merasakan sesuatu di dalam qalbu saya. Saya tidak menemukan kepuasan. Bahkan sebaliknya, saya merasa berada di pinggir jurang dan mau terperosok ke dalamnya. Saya menjadi begitu terguncang sehingga saya pergi dari satu pusat (studi, pent) ke pusat (studi) lainnya, untuk mencari apakah sesungguhnya Kebenaran itu?
Dimana saya dapat mencapai Kebenaran dan menemukan kepuasan dalam qalbu saya? Dimana saya mendapatkan Tuhan saya? Saya telah pergi kemana mana. Saya telah bertanya kepada filosofer ternama, orientalis, orang orang yang saya anggap suci, saya telah membaca apapun yang dapat saya baca. Namun ketika saya bertanya kepada seorang ‘alim ‘ulama, saya merasa seperti mereka memberikan jawaban yang telah saya ketahui. Mereka tidak memberi saya sesuatu yang baru. Saya menjadi bingung. Saya mendengar tentang namamu dan akhirnya saya telah datang kepadamu. Setelah datang kepadamu saya tak akan pergi kemanapun. Maukah anda memberi saya jawaban untuk pertanyaan saya? Apapun yang anda katakan akan saya ikuti dan percaya. Namun kalau anda tidak memberi jawaban kepada saya, saya akan tetap seperti sekarang ini, bingung dan tidak yakin sepanjang sisa hidup saya.
Grandshaykh berkata :
Anakku, jika kamu mengambil sebutir biji kacang hijau, atau buah apapun, dan meninggalkan nya mengering, untuk ratusan tahun itu akan tetap kering. Namun kalau kamu ambil biji itu, dan menaruh (menanam) nya di sebuah kebun, kemudian kamu kembali lagi sebulan kemudian, kamu akan mendapati bahwa  sebatang kecambah hijau telah muncul.
Kalau kamu menggali dan mencoba untuk mencari biji itu, kamu tidak akan mendapati nya lagi. Itu telah hilang, digantikan  oleh sesuatu yang lain.
Jika kamu tetap menyirami tanaman itu, itu akan menjadi sebatang pohon dan pohon itu akan menghasilkan buah. Tetapi di mana yang semula biji tadi? Itu telah hilang. Tidak lagi terdapat biji awal itu. Biji itu kini telah menjadi pohon yang besar, dengan buah bermunculan, memberi manusia buah untuk dimakan.
Begitu juga, jika kamu mengambil sebutir telur dan menaruhnya di bawah se ekor ayam betina, setelah tepatnya dua puluh satu hari telur itu menghilang dan datanglah seekor anak ayam. Suatu ciptaan baru menjadi muncul. Jika kamu mencari di bawah ayam betina tadi kamu tidak akan mendapat telur itu di sana. Telur itu telah lenyap. Itu adalah dua puluh satu hari dibawah ayam betina yang merubah nya menjadi suatu generasi baru.
Sesuatu yang mirip terjadi kepada manusia, ketika mereka berada di dalam rahim ibunya sekitar sembilan bulan sepuluh hari. Di dalam rahim mereka tanpa hubungan dengan apapun di luar, mereka sendirian. Namun setelah sembilan bulan sepuluh hari kesepian mereka muncul sebagai sebuah generasi baru, sebuah ciptaan baru.
Anakku, di dalam setiap sesuatu dari contoh ini terdapat sesuatu yang menjalani khalwat. Biji itu memutuskan hubungan dengan dunia di atas tanah dan berkhalwat selama beberapa minggu. Kemudian sebuah pohon muncul.
Telur itu berkhalwat di bawah induknya, tanpa hubungan dengan kehidupan materi di luar kulit telur, dan muncul sebagai sebuah generasi baru.
Sperma berkhalwat di dalam indung telur di dalam rahim ibunya selama sembilan bulan, tanpa hubungan dengan dunia luar dari kehidupan materi ini, namun setelah berkhalwat, dia muncul sebagai sebuah generasi baru.
Anakku, jika kamu tidak berkhalwat, maka janganlah berkata kepada dirimu, sebagaimana biji berkata kepada dirinya :”Saya akan memutuskan hubungan dari kehidupan materi dunia ini dan menghilang dari nya demi cinta kepada Allah dan demi manfa’at kepada manusia lainnya.”
Untuk biji, dia menghasilkan buah. Jika kamu tidak mencoba (merasakan) khalwat seperti itu, jika kamu tidak memutuskan dirimu dari kehidupan materi ini, mengabaikan ego mu, dan menghilang ke dalam ketiadaan dan hanya ada di dalam (karena) Allah, tak akan kamu pernah menemukan keberadaan (hakikat) mu yang mutlak, dirimu yang sejati. Maka kamu tidak akan pernah menjadi seperti pohon itu yang memberikan buah untuk dimakan manusia.
Jika kamu tidak mau seperti  telur itu  dan memotong dirimu dari materi, menyepi ke dalam tabung khalwat dan hanya ada di Hadhirat Tuhanmu, bermeditasi, berfokus pada Nya, mengabdi kepada Nya dalam qalbumu, mempertahankan Hadhirat Nya selalu dalam qalbumu, kamu tak akan mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan yang kamu cari.
Mengapa kamu harus menirukan benih yang masuk khalwat selama sembilan bulan? Bungkus embrio terdiri atas tiga lapis. Ini disebutkan 1,400 tahun lalu di dalam al Qur’an dalam Surat az-Zumar (39:6) pada masa ketika belum ada mikroskop. Nabi s.a.w. juga berkata, “Rahim seorang ibu terdiri atas (berlapis) kegelapan.
Kamu harus masuk ke dalam kesendirian ini, mencerabut keterikatanmu dengan segala sesuatu di dunia luar ini,  memotong dirimu dari berlapis lapis materi dari dunia ini., untuk menyendiri dengan Tuhanmu, dan dengan demikian menyambung hubungan dengan hakekat mutlak dirimu, dengan menyetel citra yang kamu pakai disini kepada aslinya di Hadhirat Ilahiah. Tak akan kamu mengerti kepuasan, tak perduli berapa banyak buku yang kamu baca, karena apabila kamu membaca, kamu hanya mendengar buku itu. Pengetahuan yang terkadung hanyalah pengetahuan gossip, bukan yang Haqq (sesungguhnya).
Namun dalam khalwat, kamu bukan hanya mendengar, kamu merasa. Kamu bukan hanya melihat, tetapi kamu mencium. Itulah saat mata hati terbuka. Anakku, jika kamu tidak memasuki khalwat, qalbumu tidak akan pernah merasa kepuasan yang kamu dambakan selama ini.
Segera orang ‘alim (orientalis) tersebut berkata, “Anda telah memberi saya jawaban terhadap pertanyaan saya dan sebuah penyelesaian untuk masalah yang tidak pernah sebelumnya saya terima dari siapapun. Hatiku terbuka. Tunjukkan jalannya.”
Grandshaykh memberinya izin untuk memasuki khalwat di sebuah tempat yang ditetapkan, memutus dirinya dari segala sesuatu. Dia memasuki tempat itu sebagai seorang biasa, namun setahun kemudian dia meninggalkan tempat itu sebagai seorang awliya Allah.
Salam,

Mbah Yunos Muhammad

2 komentar:

  1. ijin copas semoga bermanfaat dan menyelamatkan kita

    BalasHapus
  2. bagus sekali penjelasannya ana sangat ta ajub ternyata khalwat adalah sunnah para Nabi

    BalasHapus